15 Februari 2011

Ahmadiah dan bagaimana Menyikapinya

Ahmadiah didirikan di kota Qodian, India oleh Mirza Ghulam Ahmad pada tanggal 23 Maret 1889. Dalam perkembangannya, Ahmadiah terpecah menjadi dua aliran, yaitu Ahmadiah Qodiyan dan Ahmadiah Lahore. Ahmadiah Qodiyan berkeyakinan bahwa Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi, sedangkan Ahmadiah Lahore berpendapat Ghulam Ahmad adalah seorang mujadid (pembaharu).

Ahmadiah masuk ke Indonesia pada tahun 1925 di daerah Tapak Tuan Pantai Barat Aceh melalui muballig I. Maulana Rahmad Ali dan terdaftar sebagai Jama’ah Ahmadiah Indonesia yang berbadan hukum berdasarkan Penetapan Kementrian Kehakiman RI No: JA.5/23/13 tanggal 13 Maret 1953. Yang terdaftar sebagai badan hukum adalah Jemaat Ahmadiah Indonesia bukan sebagai aliran atau paham keagamaan, sesuai dengan tugas dan kewenangan Departemen Kehakiman.



Menurut sudut pandang kaum muslimin, ajaran Ahmadiah (Qodiyan) dianggap melenceng dari ajaran Islam karena mengakui Ghulam Ahmad sebagai nabi. Hal tersebut bertentangan dengan pandangan kaum muslimin yang mengimani bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi terakhir. Selain mempercayai empat kitab yang diakui kaum muslimin (Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an), Ahmadiah juga wajib menyakini kitab suci Tadzkirah. Kitab tersebut mencampuradukkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan perkataan nabi palsu Ghulam Ahmad.

Ahmadiah Qodianiyah Sebagai Antek Penjajah

Para komandan dan pemimpin imperialis Inggris berkumpul di London dan menggagas berbagai rencana untuk melawan Islam. Di antara hal yang mereka kaji adalah bahwa tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa menandingi mereka (Inggris) kecuali Islam. Oleh karena itu, untuk mendukung kekuatan imperialis, maka kekuatan Islam harus dipecah belah. Caranya bukan dengan menyerangnya, akan tetapi dengan mendirikan aliran sesat yang membawa nama Islam hingga akhirnya aliran sesat tersebut akan merusak pondasi dari ajaran Islam. Kemudian imperialis Inggris pun melakukan riset untuk menentukan orang-orang yang siap mendukung rencana mereka. Hingga akhirnya ditemukanlah orang yang dianggap paling berbahaya namun siap menjadi antek penjajah Inggris di India, orang tersebut yaitu Ghulam Ahmad Al-Ahmadi Al-Qodiyani. Ia berkata bahwa dirinya adalah seorang nabi yang diutus Allah dan wahyu turun kepadanya. Sumbangan terbesar yang diberikan nabi palsu Ghulam Ahmad terhadap Inggris adalah fatwanya yang menyatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh angkat senjata terhadap imperialis Inggris, hal itu dikarenakan syari’at jihad telah dihapus. Tentu kaum imperialis sangat senang dengan dukungan yang diberikan oleh Ahmadiah tersebut, sehingga Inggris pun memberikan mereka bantuan apa saja mulai dari perlindungan, hingga berupa harta benda.

Ghulam Ahmad sendiri dilahirkan di desa Qodian, wilayah Punjab tahun 1839 M dari keluarga yang juga antek-antek imperialis Inggris. Bapaknya merupakan salah seorang yang berkhianat terhadap kaum muslimin. Ia sering berbuat makar dan membantu imperialis Inggris demi mencari jabatan. Ghulam Ahmad menyatakan bahwa ayahnya, Ghulam Murtadha termasuk orang yang memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah Inggris. Ia memiliki kedudukan di kantor pemerintahan dan selalu membantu pemerintah (Inggris) setiap kali terjadi pemberontakan oleh rakyat.

Ketika mulai beranjak dewasa, Ghulam Ahmad mulai belajar buku-buku berbahasa Urdu dan Arab dari beberapa orang guru yang tidak terkenal. Ia bukanlah tergolong murid yang menonjol prestasinya.

Ghulam Ahmad selalu memberikan loyalitasnya kepada penjajah Inggris. Untuk itu semua, Ghulam Ahmad sangat antusias untuk memberikan arahan kepada para pengikutnya agar menjaga kesetiaannya kepada penjajah..

Hubungan Ahmadiah Qodianiyah dengan Kaum Muslimin

Banyak orang mengira bahwa Ahmadiah Qodianiyah adalah salah satu kelompok dalam Islam. Perbedaannya hanya pada masalah cabang (furu’iyah). Namun kesalahpahaman yang harus diluruskan adalah bahwa antara Ahmadiah dan Islam tidak ada hubungan apapun. Mereka hanya menipu manusia dan bersembunyi dibalik nama Islam. Apalagi dalam kitab mereka tertulis bahwa jika ada orang Islam meninggal dunia, maka tidaklah dishalati dan dimakamkan di tempat pemakaman mereka (Ahmadiah). Tidak pula boleh menikah dengan orang Islam dan tidak boleh bergaul dengan mereka. Hal itu disebabkan karena orang Islam adalah kafir menurut mereka. Seperti yang dijelaskan sendiri oleh nabi palsu Ahmadiah, Ghulam Ahmad, “Yang tidak beriman kepadaku, berarti tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Khalifah kedua Ahmadiah menyatakan bahwa alasan mereka mengafirkan orang Islam karena sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an yang mengabarkan kafirnya seseorang yang mengingkari salah seorang rasul Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengingkari bahwa Ghulam Ahmad adalah nabi Allah, maka ia telah kafir sesuai dengan nash Al-Qur’an.

Inilah aliran Ahmadiah dan hakikat hubungan mereka dengan kaum muslimin. Mereka terkadang berpura-pura solat bersama kaum muslimin dan melakukan solat dibelakang imam dari kaum muslimin. Ini adalah penipuan yang nyata. Mereka telah mengafirkan siapa saja yang mengingkari kenabian Ghulam Ahmad. Maka bagaimana mungkin mereka membolehkan anggota Ahmadiah Qodianiyah shalat dibelakang “orang-orang kafir” dalam shaf mereka? Seandainya mereka shalat bersama kaum muslimin, maka mereka melakukannya hanya sekedar untuk berpura-pura, dan setelah itu mengulanginya kembali. Nabi palsu Ghulam Ahmad berkata, “Inilah madzhabku yang terkenal itu, bahwa mereka tidak boleh shalat dibelakang orang yang bukan dari Ahmadiah Qodianiyah. Inilah hukum Allah dan ini pula yang dikehendaki Allah.” Ghulam Ahmad menulis dalam bukunya Arba’in bahwa, “Allah mengilhamkan kepadaku bahwa sungguh haram kalian shalat dibelakang orang yang mendustakanku atau ragu-ragu dalam ketaatan kepadaku.”

Lebih dari itu, tidak boleh mengasihi orang-orang Islam sebagaimana fatwa dari dua orang mufti Ahmadiah Qodianiyah ketika ditanya, “Bolehkah seorang Ahmadiah Qodianiyah mengucapkan kepada orang selain Ahmadiah yang meninggal ‘semoga Allah merahmatinya dan memasukkannya kedalam surga?’” Mereka menjawab, “Tidak boleh, karena kekafiran mereka itu jelas. Oleh karena itu tidak boleh meminta ampunan untuk mereka.”

Koran milik Ahmadiah Qodianiyah, Al-Hukmu (edisi 14 April 1920) menyatakan, “Yang harus diperhatikan dalam masalah nikah adalah agar kita tidak memberikan anak-anak gadis kita dan tidak boleh dinikahi oleh kaum muslimin. Mereka itu seperti ahli kitab. Tidak boleh menyerahkan anak-anak gadis kita kepada mereka, namun boleh menerima anak-anak gadis mereka untuk kita nikahi.” Mahmud Ahmad (anak dari nabi palsu Ghulam Ahmad) mengatakan bahwa barangsiapa yang memberikan anak perempuannya kepada kaum muslimin, maka ia diusir dari jama’ah dan dianggap kafir.

Inilah hakikat kelompok Ahmadiah Qodianiyah. dari sisi hubungannya dengan kaum muslimin. Semoga Allah tetap menjaga agama-Nya dari kejahatan para penghianat.



Sumber:

Ihsan Ilahi Dzahir, Ahmadiah Qodianiyah: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama

Ahmadiah dan bagaimana Menyikapinya

Ahmadiah didirikan di kota Qodian, India oleh Mirza Ghulam Ahmad pada tanggal 23 Maret 1889. Dalam perkembangannya, Ahmadiah terpecah menjadi dua aliran, yaitu Ahmadiah Qodiyan dan Ahmadiah Lahore. Ahmadiah Qodiyan berkeyakinan bahwa Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi, sedangkan Ahmadiah Lahore berpendapat Ghulam Ahmad adalah seorang mujadid (pembaharu).

Ahmadiah masuk ke Indonesia pada tahun 1925 di daerah Tapak Tuan Pantai Barat Aceh melalui muballig I. Maulana Rahmad Ali dan terdaftar sebagai Jama’ah Ahmadiah Indonesia yang berbadan hukum berdasarkan Penetapan Kementrian Kehakiman RI No: JA.5/23/13 tanggal 13 Maret 1953. Yang terdaftar sebagai badan hukum adalah Jemaat Ahmadiah Indonesia bukan sebagai aliran atau paham keagamaan, sesuai dengan tugas dan kewenangan Departemen Kehakiman.



Menurut sudut pandang kaum muslimin, ajaran Ahmadiah (Qodiyan) dianggap melenceng dari ajaran Islam karena mengakui Ghulam Ahmad sebagai nabi. Hal tersebut bertentangan dengan pandangan kaum muslimin yang mengimani bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi terakhir. Selain mempercayai empat kitab yang diakui kaum muslimin (Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an), Ahmadiah juga wajib menyakini kitab suci Tadzkirah. Kitab tersebut mencampuradukkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan perkataan nabi palsu Ghulam Ahmad.

Ahmadiah Qodianiyah Sebagai Antek Penjajah

Para komandan dan pemimpin imperialis Inggris berkumpul di London dan menggagas berbagai rencana untuk melawan Islam. Di antara hal yang mereka kaji adalah bahwa tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa menandingi mereka (Inggris) kecuali Islam. Oleh karena itu, untuk mendukung kekuatan imperialis, maka kekuatan Islam harus dipecah belah. Caranya bukan dengan menyerangnya, akan tetapi dengan mendirikan aliran sesat yang membawa nama Islam hingga akhirnya aliran sesat tersebut akan merusak pondasi dari ajaran Islam. Kemudian imperialis Inggris pun melakukan riset untuk menentukan orang-orang yang siap mendukung rencana mereka. Hingga akhirnya ditemukanlah orang yang dianggap paling berbahaya namun siap menjadi antek penjajah Inggris di India, orang tersebut yaitu Ghulam Ahmad Al-Ahmadi Al-Qodiyani. Ia berkata bahwa dirinya adalah seorang nabi yang diutus Allah dan wahyu turun kepadanya. Sumbangan terbesar yang diberikan nabi palsu Ghulam Ahmad terhadap Inggris adalah fatwanya yang menyatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh angkat senjata terhadap imperialis Inggris, hal itu dikarenakan syari’at jihad telah dihapus. Tentu kaum imperialis sangat senang dengan dukungan yang diberikan oleh Ahmadiah tersebut, sehingga Inggris pun memberikan mereka bantuan apa saja mulai dari perlindungan, hingga berupa harta benda.

Ghulam Ahmad sendiri dilahirkan di desa Qodian, wilayah Punjab tahun 1839 M dari keluarga yang juga antek-antek imperialis Inggris. Bapaknya merupakan salah seorang yang berkhianat terhadap kaum muslimin. Ia sering berbuat makar dan membantu imperialis Inggris demi mencari jabatan. Ghulam Ahmad menyatakan bahwa ayahnya, Ghulam Murtadha termasuk orang yang memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah Inggris. Ia memiliki kedudukan di kantor pemerintahan dan selalu membantu pemerintah (Inggris) setiap kali terjadi pemberontakan oleh rakyat.

Ketika mulai beranjak dewasa, Ghulam Ahmad mulai belajar buku-buku berbahasa Urdu dan Arab dari beberapa orang guru yang tidak terkenal. Ia bukanlah tergolong murid yang menonjol prestasinya.

Ghulam Ahmad selalu memberikan loyalitasnya kepada penjajah Inggris. Untuk itu semua, Ghulam Ahmad sangat antusias untuk memberikan arahan kepada para pengikutnya agar menjaga kesetiaannya kepada penjajah..

Hubungan Ahmadiah Qodianiyah dengan Kaum Muslimin

Banyak orang mengira bahwa Ahmadiah Qodianiyah adalah salah satu kelompok dalam Islam. Perbedaannya hanya pada masalah cabang (furu’iyah). Namun kesalahpahaman yang harus diluruskan adalah bahwa antara Ahmadiah dan Islam tidak ada hubungan apapun. Mereka hanya menipu manusia dan bersembunyi dibalik nama Islam. Apalagi dalam kitab mereka tertulis bahwa jika ada orang Islam meninggal dunia, maka tidaklah dishalati dan dimakamkan di tempat pemakaman mereka (Ahmadiah). Tidak pula boleh menikah dengan orang Islam dan tidak boleh bergaul dengan mereka. Hal itu disebabkan karena orang Islam adalah kafir menurut mereka. Seperti yang dijelaskan sendiri oleh nabi palsu Ahmadiah, Ghulam Ahmad, “Yang tidak beriman kepadaku, berarti tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Khalifah kedua Ahmadiah menyatakan bahwa alasan mereka mengafirkan orang Islam karena sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an yang mengabarkan kafirnya seseorang yang mengingkari salah seorang rasul Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengingkari bahwa Ghulam Ahmad adalah nabi Allah, maka ia telah kafir sesuai dengan nash Al-Qur’an.

Inilah aliran Ahmadiah dan hakikat hubungan mereka dengan kaum muslimin. Mereka terkadang berpura-pura solat bersama kaum muslimin dan melakukan solat dibelakang imam dari kaum muslimin. Ini adalah penipuan yang nyata. Mereka telah mengafirkan siapa saja yang mengingkari kenabian Ghulam Ahmad. Maka bagaimana mungkin mereka membolehkan anggota Ahmadiah Qodianiyah shalat dibelakang “orang-orang kafir” dalam shaf mereka? Seandainya mereka shalat bersama kaum muslimin, maka mereka melakukannya hanya sekedar untuk berpura-pura, dan setelah itu mengulanginya kembali. Nabi palsu Ghulam Ahmad berkata, “Inilah madzhabku yang terkenal itu, bahwa mereka tidak boleh shalat dibelakang orang yang bukan dari Ahmadiah Qodianiyah. Inilah hukum Allah dan ini pula yang dikehendaki Allah.” Ghulam Ahmad menulis dalam bukunya Arba’in bahwa, “Allah mengilhamkan kepadaku bahwa sungguh haram kalian shalat dibelakang orang yang mendustakanku atau ragu-ragu dalam ketaatan kepadaku.”

Lebih dari itu, tidak boleh mengasihi orang-orang Islam sebagaimana fatwa dari dua orang mufti Ahmadiah Qodianiyah ketika ditanya, “Bolehkah seorang Ahmadiah Qodianiyah mengucapkan kepada orang selain Ahmadiah yang meninggal ‘semoga Allah merahmatinya dan memasukkannya kedalam surga?’” Mereka menjawab, “Tidak boleh, karena kekafiran mereka itu jelas. Oleh karena itu tidak boleh meminta ampunan untuk mereka.”

Koran milik Ahmadiah Qodianiyah, Al-Hukmu (edisi 14 April 1920) menyatakan, “Yang harus diperhatikan dalam masalah nikah adalah agar kita tidak memberikan anak-anak gadis kita dan tidak boleh dinikahi oleh kaum muslimin. Mereka itu seperti ahli kitab. Tidak boleh menyerahkan anak-anak gadis kita kepada mereka, namun boleh menerima anak-anak gadis mereka untuk kita nikahi.” Mahmud Ahmad (anak dari nabi palsu Ghulam Ahmad) mengatakan bahwa barangsiapa yang memberikan anak perempuannya kepada kaum muslimin, maka ia diusir dari jama’ah dan dianggap kafir.

Inilah hakikat kelompok Ahmadiah Qodianiyah. dari sisi hubungannya dengan kaum muslimin. Semoga Allah tetap menjaga agama-Nya dari kejahatan para penghianat.



Sumber:

Ihsan Ilahi Dzahir, Ahmadiah Qodianiyah: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama

25 Januari 2011

Bagaimana Mencari Kawan dan Memepengaruhi Orang Lain

"Bagaimana Mencari kawan dan Mempengaruhi Orang Lain” karya Dale Carnegie

Teman menyarankan kepada saya untuk membaca buku “Bagaimana Mencari kawan dan Mempengaruhi Orang Lain” karya Dale Carnegie, tapi tidak banyak orang yang menjelaskan kepada saya buku itu berisikan apa aja, merka Cuma mengatakan bahwa buku itu bagus untuk dibaca dan menjadikan kita bisa memperoleh teman yang lebih banyak.Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan apa saja sich yang dibahas dalam buku tersebut. Buku ini memberikan kita pelajaran tentang bagaimana kita bisa memeperoleh teman yang lebih banyak, bagaimana kita mempunyai pengaruh dalam bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat, dan bagaimana membina hubungan antar manusia.

Pada cover belakang buku ini tertulis ada sepuluh hal yang bisa anda dapatkan dalam buku ini, yaitu :

1. Mengeluarkan Anda dari kebiasaan mental yang buruk, memberi Anda gagasan baru, visi baru dan ambisi baru.

2. Membuat Anda mudah dan cepat berkawan

3. Meningkatkan popularitas Anda

4. Memikat orang mengikuti cara berpikir Anda

5. Meningkatkan pengaruh, prestise, kemampuan Anda untuk menyelesaikan segala sesuatu

6. Memungkinkan Anda memperoleh klien dan pelanggan baru

7. Meningkatkan kemampuan Anda dalam memperoleh penghasilan yang lebih besar

8. Menjadikan Anda wiraniaga, manajer atau eksekutif yang lebih baik

9. Menjadikan Anda pembicara yang lebih baik dan lebih menyenangkan

10. Membangkitkan antusiasme diantara rekan usaha

Berikut Saya ingin memberikan ringkasan-ringkasan dalam buku ini

Teknik-teknik Mendasar dalam Menangani Manusia :

- Prinsip 1 : Jangan mengkritik, mencercah atau mengeluh

- Prinsip 2 : Berikan penghargaan yang jujur dan tulus

- Prinsip 3 : Bangkitkan minat pada diri orang lain

Enam Cara untuk Membuat Orang Lain Menyukai Anda

v Prinsip 1 : Jadilah sungguh-sungguh berminat tehadap orang lain

v Prinsip 2 : Tersenyumlah

v Prinsip 3 : Mengingat nama seseorang adalah hal paling mengesankan dan paling penting bagi orang itu dalam bahasa apapun

v Prinsip 4 : Jadilah pendengar yang baik. Dorong orang lain untuk berbicara tentang diri mereka

v Prinsip 5 : Bicarakan minat-minat orang lain

v Prinsip 6 : Buat orang lain merasa penting – dan lakukan itu dengan tulus

Memikat Orang Lain Mengikuti Cara Berpikir Anda :

Ø Prinsip 1 : Satu-satunya cara untuk memperoleh manfaat paling banyak dari perdebatan adalah menghindari perdebatan itu sendiri

Ø Prinsip 2 : Perlihatkan respek terhadap pendapat orang lain. Jangan pernah berkata, “Anda salah.”

Ø Prinsip 3 : Kalau Anda salah, akuilah dengan cepat dan simpatik

Ø Prinsip 4 : Mulailah dengan cara yang ramah

Ø Prinsip 5 : Usahakan orang lain mengucapkan ”ya, ya” dengan segera

Ø Prinsip 6 : Biarkan orang lain yang lebih banyak berbicara

Ø Prinsip 7 : Biarkan orang lain merasa bahwa itu adalah idenya

Ø Prinsip 8 : Cobalah dengan sungguh-sungguh melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Ø Prinsip 9 : Bersimpatilah dengan ide dan hasrat orang lain

Ø Prinsip 10 : Imbaulah motif-motif yang lebih mulia

Ø Prinsip 11 : Dramatisir ide-ide Anda

Ø Prinsip 12 : Lemparkan tantangan

Menjadi Pemimpin

- Prinsip 1 : Mulailah dengan pujian dan penghargaan yang jujur

- Prinsip 2 : Beritahu kesalahan orang lain dengan cara tidak langsung

- Prinsip 3 : Bicarakan kesalahan Anda dulu sebelum mengkritik orang lain

- Prinsip 4 : Ajukan pertanyaan sebagai ganti memberi perintah langsung

- Prinsip 5 : Biarkan orang lain menyelamatkan muka

- Prinsip 6 : Pujilah peningkatan sekecil apapun dan pujilah setiap peningkatan. Jadilah ”tuluslah dalam penerimaan Anda dan murah hati dalam penghargaan Anda”

- Prinsip 7 : Beri orang lain reputasi yang baik untuk mereka penuhi

- Prinsip 8 : Gunakan dorongan. Buat kesalahan tampak mudah diperbaiki.

- Prinsip 9 : Buat orang lain merasa senang mengerjakan hal yang Anda sarankan

"The Cast Flow Quadrant"

Buku ini ditulis oleh Robert T. Kiyosaki,seorang keturunan Asia dan Amerika.

Beliau juga merupakan penasehat keuangan Bill Gates ( pemilik Microsoft Corporation ),
dimana 95% kekayaan Bill Gates dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial.

Buku ini merupakan dasar dari usaha kami, di mana kami menginginkan kebebasan finansial
dengan beralih dari kuadran kiri menuju kuadran kanan. Buku ini membahas mengenai kebebasan finansial.

Dalam buku tersebut kita harus mengetahui letak kuadran keadaan finansial kita.
Cashflow Quadrant dipetakan menjadi E, S, B, dan I.

E untuk employee (pegawai),
S untuk self-employed (pekerja lepas),
B untuk business owner (pemilik usaha),
I untuk investor (penanam modal).

“E” dan “S” yang mengandalkan gaji diletakkan di kuadran sisi kiri,
sedangkan “B” dan “I” yang menerima pemasukan dan bisnis atau investasi diletakkan di sisi kanan.

Setiap orang setidaknya menempati satu dari keempat Cashflow Quadrant
dan kebanyakan dari kita menempati posisi sebelah kiri sebagai employee atau self-employee.

The Cashflow Quadrant adalah tentang keempat jenis orang berbeda dalam dunia bisnis,
tentang siapa diri mereka dan apa yang membuat individu di masing-masing kuadran unik.

Pembaca akan dibantu menentukan di mana posisi kita sekarang dalam kuadran,
dan pembaca akan dibantu memetakan arah untuk mencapai posisi yang diinginkan di masa depan
ketika memilih jalan sendiri untuk menuju kebebasan finansial.
Walaupun kebebasan finansial bisa ditemukan dalam keempat kuadran ini,
namun keterampilan “B” atau “I” akan membantu mencapai target finansial dengan lebih cepat.

Dan seorang “E” yang berhasil seharusnya menjadi seorang “I” yang berhasil juga.
Buku ini ditulis bagi mereka yang siap untuk pindah dari keamanan pekerjaan dan mulai mencari
kebebasan finansial mereka; membuat perubahan finansial dan profesional yang besar dalam hudup mereka;
dan pindah dari Era Industri ke Era Informasi.

Setiap orang dapat sukses di kuadrannya masing-masing.

Perbedaan seorang E, S dan seorang B, I adalah :

Bahwa seorang E, S tidak dapat meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang lama,
sedangkan seorang B, I dapat meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang relatif lama
karena aset-lah yang bekerja untuknya.

CONTOH SEORANG ”E”
Mari kita ambil contoh yang pada umumnya terjadi di masyarakat,
yaitu seorang karyawan perusahaan.
Apabila seorang karyawan perusahaan tidak dapat bekerja karena alasan sakit atau usia lanjut,
maka seorang karyawan tadi tidak akan mendapatkan uang / gaji mereka yang berasal dari perusahaan

CONTOH SEORANG ”S”
Mari kita ambil contoh seorang dokter.
Apabila seorang dokter tidak praktek karena alasan kesehatan, usia lanjut,
atau karena adanya bencana yang mengakibatkan seorang dokter tidak bisa membuka prekteknya,
maka dokter tersebut tidak akan mendapatkan penghasilan.

CONTOH SEORANG ”B”
Mari kita ambil contoh seorang pemilik waralaba ayam goreng Kentucky ( KFC ).
Apabila pemilik waralaba tersebut ingin berlibur ke luar negeri selema satu bulan hingga beberapa tahun,
maka bisnisnya akan tetap berjalan dan menghasilkan uang karena telah memilik sistem yang telah terbukti
dapat berjalan dengan sistem yang ada dan karyawannya.

CONTOH SEORANG ”I”
Mari kita ambil contoh seorang deposan.
Sama seperti seorang ”B”, yaitu ketika seorang deposan ingin meninggalkan bisnisnya dalam
waktu yang lama, maka bisnisnya tetap dapat berjalan karena aset-lah yang bekerja untukkya.


KUADRAN MANA YANG ANDA INGINKAN ?

KUADRAN KIRI :
SEMAKIN KAYA, SEMAKIN SIBUK
DAN FINANSIAL ???

KUADRAN KANAN :
SEMAKIN KAYA, SEMAKIN BEBAS WAKTU
DAN BEBAS FINANSIAL

APABILA ANDA INGIN BERPINDAH DARI KUADRAN KIRI KE KUADRAN KANAN,
MAKA ANDA ADALAH ORANG YANG TEPAT UNTUK MEMBACA MATERI INI. SELANJUTNYA ANDA BISA MENGHUBUNGI SAYA UNTUK MENCARI TAHU BAGAIMANA CARA PERPINDAHAN KUADRAN ITU.

SAYA TUNGGU…!!!

20 Januari 2011