20 Januari 2011

Kala Cinta Harus Memilih

KALA CINTA HARUS MEMILIH

Alkisah, ada seorang gadis bernama Cinta yang berasal dari negeri merah jambu.

Siang itu Cinta, raja dan permaisuri tengah menerima beberapa pemuda yang hendak melamar Cinta sebagai istri mereka.

Raja memanggil pemuda pertama, raja bertanya

,”Siapa namamu wahai anak muda?”

“Nama saya materi paduka,” jawab pemuda itu

“Hmm…. apa maksud kedatanganmu kemari wahai materi?”

“Hamba ingin melamar putri paduka raja, yaitu Cinta,” jawab nya

“Aku ingin tahu, sebagai ayah, apa yang akan kau lakukan kelak, jika Cinta menerima lamaranmu?” tanya sang raja kembali

“Paduka raja yang mulia, paduka tidak perlu khawatir, hamba akan memberikan apa saja yang Cinta minta, mobil, rumah, apartemen, tabungan, pakaian yang indah, semua akan hamba penuhi. Bahkan, hamba akan membangun sebuah istana yang lebih indah dan lebih besar dari pada istana ini dan Cinta akan hamba ajak berkeliling dunia,” materi menjawab dengan panjang lebar.

“Baiklah, cukup itu saja, atau ada lagi yang ingin kau sampaikan pada Cinta?’ tanya raja kembali

“Apapun yang Cinta minta, akan saya penuhi, paduka,” jawab materi penuh keyakinan

“Baik kalau begitu, Cinta, bagaimana jawabanmu putriku?” tanya raja pada Cinta

Cinta tersenyum dan berkata ,”ayah, Cinta merasa sangat berlebihan dengan harta yang ayahanda raja miliki, Cinta adalah putri ayah satu satunya, sudah pasti, suatu saat nanti Cinta yang akan memimpin negeri ini, dan bagi Cinta, memiliki negeri ini lebih dari cukup jika dibandingkan dengan apa yang materi tawarkan tadi. Bukan itu yang Cinta mau ayahanda….”
Sang raja mengangguk-ngangguk, dia pun berpaling kepada materi, yang saat itu menampakakkan raut kekecewaan.

“Nah, materi, kamu sudah dengar sendiri bukan, Cinta tidak memerlukan hartamu, jika itu yang engkau tawarkan. Karena itu, silakan engkau tinggalkan ruangan ini,”

Materi terdiam, kemudian ia berkata,”Baiklah baginda raja, hamba mohon ijin,” materi berjalan keluar ruangan dengan langkah lunglai dan tertunduk.

“Giliranmu anak muda, siapa namamu?” raja bertanya pada pemuda berbadan tinggi dan tegap
“Nama hamba Gagah baginda,” jawab pemuda itu
“Baiklah gagah, apa maksud kedatanganmu kemari?” tanya sang raja

“Hamba ingin melamar putri paduka yaitu Cinta, untuk menjadi istri hamba,” jawab gagah dengan senyum yang sangat menawan

“Hmm…. sebagai ayah, aku ingin tahu, apa yang akan kau berikan pada Cinta, jika ia kelak bersedia menjadi istrimu?” tanya raja

“Paduka, hamba akan memastikan keindahan Cinta di dunia ini tidak akan pudar, hamba akan selalu menjaga Cinta, agar tetap cantik, tetap indah. Hamba akan memastikan, kecantikan Cinta tak lekang oleh waktu, walaupun usia kita pasti akan bertambah, hamba akan memastikan, tidak ada yang berubah pada diri Cinta. Cinta akan tetap indah dan tidak akan termakan oleh usia.” jawab Gagah penuh kepastian dan senyum yang sangat menawan

“Baiklah, hanya itu saja, atau masih ada lagi?” tanya raja kembali

“Hamba rasa cukup paduka,” jawab gagah sambil memandangi Cinta dengan penuh keyakinan, bahwa lamarannya akan diterima.

“Baik, sekarang saatnya kita dengarkan dengar jawaban Cinta, bagaimana jawabanmu putriku?”
Cinta menatap gagah sejenak, pemuda itu membalas pandangan Cinta, kemudian Cinta memandang ayahnya dan berkata

“Ayah, hamba ragu dengan pernyataan gagah, betulkah ia dapat menjaga Cinta agar selalu terlihat cantik, walaupun Cinta telah tua kelak…….. Ayah, menjadi tua adalah sebuah kepastian, dan itu terbukti pada diri ayah. Seberapa pun kerasnya ayah menjaga fisik, baik itu dengan olahraga, meminum vitamin, makan makanan yang sehat dan bergizi, menjaga tidur, menjaga pikiran, tetap saja, fisik ayah yang dulu dan saat ini berubah. Kening ayah tetap berkerut, kantung mata ayah telah menghitam, rambut ayah pun sudah memutih. Saat ini, gagah memang sangat menawan, namun, jika gagah mencintai Cinta hanya karena kecantikan, Cinta terpaksa harus menolak ayah, karena seperti yang tadi Cinta katakan, menjadi tua adalah sebuah kepastian. Cinta tidak ingin gagah mencintai Cinta hanya karena fisik, karena kecantikan itu tidak abadi.” jelas Cinta panjang lebar

Gagah terkejut mendengar jawaban Cinta.

“Nah, gagah, engkau sudah mendengar jawaban dari Cinta. Ia tidak menilai kedalaman cinta dari fisik semata, karena itu, silakan engkau tinggalkan ruangan ini.” kata raja

Gagah tertunduk lemas. Ia tak bisa berkata-kata, ia pun meninggalkan ruangan dengan langkah lunglai.

“Kamu anak muda, siapa namamu?” tanya raja pada seorang pemuda berpenampilan trendi, masa kini, sambil membawa bunga dan sebuah gitar.

“Salam sejahtera duhai raja yang memiliki negeri nan indah, rakyatnya tentram dan damai……. perkenalkan, nama hamba Gombal.” jawab pemuda itu sambil melemparkan senyum manis pada cinta.

“Baiklah gombal, apa maksud kedatanganmu kemari, wahai anak muda?”

“Wahai paduka raja yang mulia, yang terkenal di seantero negeri dengan kedermawanannya, maksud kedatangan hamba kemari adalah untuk melamar putri paduka raja, Cinta, yang cantik jelita, elok bagai bidadari, rupawan bagai bunga, indah di pandang bak pelangi.”

“Hmm…baiklah, lalu, jika kelak Cinta menerima lamaranmu, apa yang akan kau berikan padanya?” tanya raja

“Baginda raja yang arif dan bijaksana, paduka raja yang terhormat tidak perlu merasa khawatir, hamba akan selalu ada di sisi Cinta, kapanpun dan dimanapun. jika cinta terluka, biarlah hamba melukai diri hamba juga, jika cinta menangis sedih, biarkan hamba menanti air mata cinta sebelum air mata itu sempat membasahi pipi cinta, hamba akan membuat cinta selalu tersenyum, hamba akan membuat hari-hari cinta indah bagaikan hidup di surga, hamba tidak akan membiarkan cinta kesusahan, jika masalah datang menghadang, hamba yang pertama akan menghadapinya, hamba tidak akan membiarkan cinta tersakiti ataupun disakiti, dan jika kelak cinta mati, hambapun akan ikut mati bersamanya……oohhh cinta, ijinkan aku untuk menjadi pendampingmu…” jawab gombal panjang lebar.

“Baiklah, jawabanmu sangat panjang, sekarang, saatnya kita mendengar jawaban Cinta, bagaimana jawabanmu nak?” tanya raja

Tiba-tiba, gombal berlutut di hadapan Cinta dan menyerahkan setangkai bunga yang sejak tadi di genggamnya, ia berkata pada Cinta “Wahai cinta, dindaku terkasih, terimalah bunga ini sebagai tanda cintaku padamu,”

Cinta terkejut, kemudian berkata, “Maafkan wahai gombal, dengarlah dulu jawabanku.” Cinta berkata sambil menepis dengan halus, bunga yang gombal berikan.

“Ayahanda tercinta, hamba tidak habis pikir dengan jawaban gombal, tidak mungkin rasanya, kelak, gombal akan selalu ada disisi Cinta juga tidak mungkin Cinta akan selalu merasa senang, tidak mungkin dalam suatu pernikahan tidak ada masalah, tidak ada perbedaan. Ayah sendiri sudah mengalaminya bukan. Ayah dan ibu terkadang berselisih paham, berdebat, namun, setelah itu ayah dan ibu kembali rukun dan mesra seperti biasa, tidak mungkin pula, jika cinta terluka, gombal akan rela melukai dirinya sendiri, tidak mungkin cinta akan bahagia selamanya, karena dalam hidup ini, pasti ada saat susah dan ada saat senang, dan satu lagi, adalah sebuah kemustahilan jika cinta mati, gombal pun akan ikut mati bersama cinta…. ahhh…. bukan itu yang Cinta cari ayah…..” jawab Cinta dengan nada mulai putus asa.

“ooohhhh cinta, jawabanmu melukai hatikuuuu…….” jawab gombal penuh duka.

“nah, gombal, sudah dengar sendiri jawabannya bukan, sekarang, silakan kau tinggalkan ruangan ini” kata raja

“Aha, ternyata tinggal satu pemuda lagi, siapa namamu anak muda?” tanya raja pada seorang pemuda berpenampilan santun

“Assalammualaikum paduka raja yang terhormat, nama hamba Iman.” jawab pemuda itu sambil menatap raja.

“Baiklah iman, apa maksud kedatanganmu kemari, wahai anak muda?” tanya raja

“Hamba bermaksud untuk melamar putri paduka, yaitu Cinta, untuk hamba jadikan istri.”
jawab Iman dengan sopan

“Iman, perlu engkau ketahui, tak mudah untuk menaklukan hati putriku, ia sudah menolak tiga lamaran pemuda yang begitu meyakinkan, yang rela memberi apapun yang ia inginkan. nah, engkau sendiri, apa yang akan kau berikan pada cinta, jika kelak ia bersedia menjadi istrimu?”

“Paduka raja, hamba memang tidak seperti tiga pemuda tadi, yang bisa memberikan apapun yang Cinta inginkan. yang bisa hamba berikan, mungkin tidak bisa dilihat oleh mata, karena kasih sayang yang hamba berikan berbentuk ketulusan, keikhlasan dan pengertian. hamba tidak bisa memberikan kepastian akan kecantikan cinta yang abadi, namun yang bisa hamba berikan, adalah menerima Cinta apa adanya saat ini ataupun nanti jika kita sudah tua. hamba tidak dapat memberi istana yang besar di dunia, tapi hamba ingin mengajak cinta membangun istana untuk keluarga kita kelak di surga abadi. hamba memang tidak mungkin untuk selalu menemani cinta dimanapun cinta berada, namun hamba akan selalu menemani setiap langkah cinta dengan iringan doa yang tulus. hamba tidak mungkin dapat melukai diri hamba sendiri saat cinta terluka, namun hamba akan mengajak cinta menikmati ujian luka, dengan selalu mengingat bahwa ada saat sehat dan juga ada saat sedih. hamba juga tidak dapat menjaga agar cinta tetap muda dan menawan, karena seperti yang sudah cinta katakan tadi bahwa, menjadi tua adalah sebuah kepastian, karena itu, hamba akan mengajak cinta untuk menikmati kasih sayang ini dengan kedewasaan…..”

Iman menghela napas sejenak kemudian melanjutkan ,”dan yang terpenting paduka, hamba akan mengajak cinta untuk membuat sebuah keluarga yang berlandaskan pada cinta Allah, saling mencintai karena Allah dan berharap agar cinta kita selalu di ridhoi oleh Allah….” kata Iman mengakhiri penjelasannya.

Sebelum ayahnya sempat bertanya pada Cinta, Cinta segera berkata,“Ayah, inilah yang Cinta harapkan, inilah pemuda yang Cinta cari selama ini…..”

Sang raja dan permaisuri pun tersenyum puas…..

Cinta Itu....

CINTA ITU.....

Cinta itu tumbuh dan berkembang

cinta juga dapat disemai dimana dan kapan saja

buah dari cinta itu tergantung bagaimana kita memelihara, menjaga, dan memupuknya, dengan rutin dan tanpa beban

Cinta itu tidak berubah

cinta itu tumbuh semakin tinggi seperti pohon
semakin tinggi pohon cinta, semakin dapat melihat cakrawala di ujung dunia
semakin luas memandang apa yang terjadi di bawahnya

Cinta itu tidak berubah
hanya semakin besar dan kokoh

Cinta itu bukan ungkapan sayang dan ingin mati bersamanya

Cinta itu bukan kesetiaan yang setiap detik harus diucapkan bak mantara sebelum perang

Cinta itu bukan emosi berkabut, hingga bunuh diri ketika ada perpisahan

cinta itu juga semakin tua
tapi dia menghasilkan buah dan berbiji untuk kemudian disemai lagi

Cinta itu tidak pernah mati
seperti pohon tidak pernah mati,
yang mati hanya siklus pohon itu
namun dia tetap kembali tumbuh
dan bersemi………………

Pahami cinta itu sebagaimana adanya
bukan prasangka dan berpikir suatu hal yang tidak di harapkan

Sahabat,

Allah telah menganugerahkan cinta ke dalam kalbu berkat kekuasaan-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya untuk tujuan yang dikehendaki-Nya.

Seperti yang dituliskan oleh Ibnu Al Jauziyah dalam bukunya,

Bahwa Allah yang telah mengeluarkan bakat yang terkandung di dalam diri setiap makhluk melalui cinta berdasarkan hikmah kebijaksanaan-Nya.

Dia pulalah yang telah menciptakan cinta menjadi beberapa macam, kemudian dibagi-bagikan-Nya di antara makhluk-Nya secara terinci.

Dia telah menganugerahkan cinta kepada setiap makhluk-Nya agar menyukai apa yang dicintainya dalam kadar tertentu, tanpa memandang apakah dia keliru atau[kah] benar dalam cintanya, dan menjadikan pihak yang mencintai dengan kecintaannya itu merasa disenangkan atau disengsarakan.

Sahabat,

Allah akan mengutamakan para pencinta-Nya , Kitab-Nya, dan Rasul-Nya di atas semua pencinta lainnya dengan keutamaan yang sebenar-benarnya.

Sahabat,

pahamilah cinta seperti apa adanya
biarkan cinta itu mengalir dan bermuara pada-Nya


selamat merayakan cinta, barakallah…..

Cinta Itu....

CINTA ITU.....

Cinta itu tumbuh dan berkembang

cinta juga dapat disemai dimana dan kapan saja

buah dari cinta itu tergantung bagaimana kita memelihara, menjaga, dan memupuknya, dengan rutin dan tanpa beban

Cinta itu tidak berubah

cinta itu tumbuh semakin tinggi seperti pohon
semakin tinggi pohon cinta, semakin dapat melihat cakrawala di ujung dunia
semakin luas memandang apa yang terjadi di bawahnya

Cinta itu tidak berubah
hanya semakin besar dan kokoh

Cinta itu bukan ungkapan sayang dan ingin mati bersamanya

Cinta itu bukan kesetiaan yang setiap detik harus diucapkan bak mantara sebelum perang

Cinta itu bukan emosi berkabut, hingga bunuh diri ketika ada perpisahan

cinta itu juga semakin tua
tapi dia menghasilkan buah dan berbiji untuk kemudian disemai lagi

Cinta itu tidak pernah mati
seperti pohon tidak pernah mati,
yang mati hanya siklus pohon itu
namun dia tetap kembali tumbuh
dan bersemi………………

Pahami cinta itu sebagaimana adanya
bukan prasangka dan berpikir suatu hal yang tidak di harapkan

Sahabat,

Allah telah menganugerahkan cinta ke dalam kalbu berkat kekuasaan-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya untuk tujuan yang dikehendaki-Nya.

Seperti yang dituliskan oleh Ibnu Al Jauziyah dalam bukunya,

Bahwa Allah yang telah mengeluarkan bakat yang terkandung di dalam diri setiap makhluk melalui cinta berdasarkan hikmah kebijaksanaan-Nya.

Dia pulalah yang telah menciptakan cinta menjadi beberapa macam, kemudian dibagi-bagikan-Nya di antara makhluk-Nya secara terinci.

Dia telah menganugerahkan cinta kepada setiap makhluk-Nya agar menyukai apa yang dicintainya dalam kadar tertentu, tanpa memandang apakah dia keliru atau[kah] benar dalam cintanya, dan menjadikan pihak yang mencintai dengan kecintaannya itu merasa disenangkan atau disengsarakan.

Sahabat,

Allah akan mengutamakan para pencinta-Nya , Kitab-Nya, dan Rasul-Nya di atas semua pencinta lainnya dengan keutamaan yang sebenar-benarnya.

Sahabat,

pahamilah cinta seperti apa adanya
biarkan cinta itu mengalir dan bermuara pada-Nya


selamat merayakan cinta, barakallah…..

Doa Cinta Sang Pengantin

Doa Cinta
Sang Pengantin

Ya Allah…
Andai Engkau berkenan, limpahkan kepada kami cinta yang Engkau jadikan pengikat rindu Rosulullah dan Khatidjah Al-Qubro, yang Engkau jadikan mata air kasih sayang Imam Ali dan Fatimah Az-Zahra, yang Engkau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.
Ya Allah…
Andai semua itu tak layak bagi kami, maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridho-Mu.
Jadikan kami suami istri yang saling mencintai dikala dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh, saling menghibur dikalal duka, saling mengingatkan dikala bahagia, saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan saling menyempurnakan dalam peribadatan.
Ya Allah…
Sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu dan bukti pengikatan dan cinta kami kepada sunah keluarga Rosul-Mu.

- Khalil Gibran -

Katakanlah Bahwa Kau Cinta Dia

“Ya Rasulullah,” kata shahabat itu kepada sang kekasih utama, “Sesungguhnya aku mencintai orang itu.”

Saat itu, sebagaimana dituturkan Anas bin Malik dan dicatat Imam Abu Dawud, seorang shahabat sedang duduk bersama Rasulullah. Kemudian seorang shahabat lagi berjalan melintasi mereka. Melihat shahabat yang melintas tersebut, dalam diri shahabat yang duduk itu timbul keinginan untuk mengungkapkan perasaannya tentang shahabat tadi kepada Rasulullah. Tentu saja Rasulullah gembira mengetahui hal itu. Namun, sejurus kemudian beliau bertanya pada shahabat yang di dekatnya itu.

“Sudahkah engkau menyatakan cintamu padanya?” Rasulullah bertanya. Ini adalah pertanyaan sekaligus anjuran bagi shahabat itu untuk melakukan apa yang ditanyakan oleh Rasulullah.

“Belum, ya Rasulullah,” jawabnya lugas.

“Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya,” kata Rasulullah. Kali ini secara lugas Rasulullah menganjurkan agar shahabat tersebut benarbenar mengungkapkan perasaannya kepada shahabat yang melintasi mereka tadi.

Maka, sertamerta shahabat yang berada di dekat rasulullah itu segera mengejar shahabat yang melintas tadi. Bergegas didapatinya shahabat itu. Tatkala mereka telah berdekatan, shahabat yang mengejar tadi mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada shahabatnya itu. “Sesungguhnya, saya mencintaimu,” katanya.

Mendengar apa yang dikatakan oleh saudara seimannya itu, shahabat yang kedua itu merasa bahagia dan mendoakan kebaikan bagi saudaranya itu. Ia tahu dan menyadari bahwa seseorang yang mencintai saudaranya akan dicintai oleh Allah. “Engkau juga dicintai oleh Allah yang karena Allah itulah engkau mencintai aku.”

Dari sini kita bisa mengerti bahwa sesungguhnya mengungkapkan rasa cinta kepada seseorang adalah sunnah Rasulullah. Beliau memerintahkan kita untuk mengungkapkan rasa cinta kita kepada merekamereka yang kita cintai. Di sini cinta tidak hanya berwujud dalam bentuk rasa hati, konsepsi, dan emosi semata. Namun, cinta juga perlu untuk ditransliterasikan dalam mozaik hurufhuruf yang sangat indah itu, mantera cinta, “Aku mencintaimu.”

Mengungkapkan kata cinta bagi si pecinta merupakan hal yang sangat sulit. Adalah mereka para lajang yang hendak menginjak dan menduduki singgasana pernikahan merupakan manusiamanusia yang paling banyak merasakan getaran dan gejolak cinta. Namun, rasa malu dan pendapat yang salah dalam memahami cinta menjadikan sebagian mereka tersiksa oleh perasaan cintanya itu. Perasaan untuk disalurkan dengan katakata, “Sesungguhnya, aku mencintaimu.”
Mereka takut bahwa mengatakan cinta sebelum bersanding di singgasana pernikahan adalah perbuatan dosa dan tidak menjaga diri. Maka, biarlah saya pinjam syair dari Ibnu Hazm, seorang ulama yang pecinta sejati, dari Untaian Kalung Merpati.

jangan berlagak suci, menyebut cinta sebagai dosa
bahkan muhammad pun tak akan mencela pecinta
dia tak pernah mencinta umatnya yang jatuh cinta

Oleh sebab itu, Ibnu Hazm selalu mendukung merekamereka yang mencintai seseorang untuk mengungkapkan perasaan cintanya. Ia mengetahui bagaimana rasa derita yang dialami kawankawannya ketika merasakan gejolak cinta yang begitu dalam dan kuat.

wahai kawan, ungkapkan saja perasaan cintamu!
sebab pendapat kita tentang cinta adalah sama
sampai kapan akan kau sembunyikan
aku takkan tinggalkan kau sendirian

Para pecinta yang mengungkapkan apa yang dirasakannya akan merasakan kelegaan di dalam dadanya. Seakan kekuatan potensi cinta yang menggelantung dan membesar di rongga dadanya kini telah terlepas bersama katakata cinta. Maka, para pecinta yang telah mengungkapkan rasa cintanya akan merasakan dirinya ringan, napasnya teratur, degup jantungnya stabil, dan tekanan darahnya standar, umumnya ia berada dalam kondisi yang sehat secara fisik dan psikis. Ia telah melepaskan sebagian beban cinta dari dalam dirinya untuk dibagi dengan orang yang dicintainya.

Sedangkan bagi mereka yang diberi pernyataan cinta oleh pecintanya, ada dua macam. Namun kita hanya akan membahas yang juga mencintai si pecintanya. Maka, bagi dirinya, diberi ungkapan cinta adalah kebahagiaan. Ini berarti ia memiliki seseorang yang menganggap bahwa dirinya ada dan eksis sebagai sebuah wujud tertentu yang harus diberi, diperhatikan, ditumbuhkan, dirawat, dan dilindungi. Inilah inti dari ungkapan cinta yang pecinta, bahwa ia tidak hanya hidup dalam katakata, tapi dalam kerja cinta. Namun, katakata merupakan bagian dari kerjakerja cinta itu. Mendengarkan seseorang mengatakan cinta adalah kebutuhan.

Maka, tidaklah heran jika Aisyah selalu ingin mendengar katakata Rasulullah bahwa Rasulullah mencintainya. Meskipun ia sangat tahu Rasulullah paling mencintainya, tapi ia ingin terus menerus mendengarnya dari suaminya. Kadang, ia memancing Rasulullah mengatakan cinta dengan pertanyaanpertanyaan retorisnya. Bahwa ia adalah isteri yang paling istimewa, dia adalah satusatunya isteri yang masih perawan ketika dinikahi Rasulullah.
“Jika engkau turun ke suatu lembah,” kata Aisyah kepada Rasulullah seperti dicatat Imam Bukhari, “Lalu engkau lihat di situ ada rumput yang telah dimakan - oleh gembala lain – dan ada rumput yang belum dimakan, di rumput manakah gembalamu engkau suruh makan?”

Rasulullah tahu arah pembicaraan isteri yang paling dicintainya itu. Maka, beliau menjawab, “Tentulah pada rumput yang belum dimakan (gembala lain).” Maksud Rasulullah adalah bahwa ia akan memilih yang masih perawan, metafora padang gembalaan.

Jika para pecinta sunyi memiliki malaikat yang senantiasa mengamini doadoanya pada yang dicintainya serta mendoakan yang serupa untuk si pecinta sunyi. Maka, di sini para pecinta yang mentransliterasikan cinta juga memiliki malaikatmalaikat yang mencintainya juga. Tuan dan Nyonya masih ingat jawaban dari shahabat yang dicintai shahabat yang lainya itu? “Engkau juga dicintai oleh Allah yang karena Allah itulah engkau mencintai aku,” jawabnya. Sehingga pecinta yang mentransliterasikan cintanya karena Allah itu akan dicintai oleh Allah pula.

“Jika Allah Ta'ala itu mencintai seseorang hamba,” kata Rasulullah dari Abu Hurairah dalam Shahihain, “Maka Dia memanggil Jibril untuk memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, ‘Maka cintailah olehmu - hai Jibril - si Fulan itu.’ Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang kepada seluruh penghuni langit memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, ‘Maka cintailah olehmu semua - hai penghuni-penghuni langit - si Fulan itu’. Para penghuni langitpun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah penerimaan(kecintaan) baginya di kalangan penghuni bumi.”

Ah, bukankah ini keajaiban, ketika kita mentransliterasikan cinta dalam sebait kata sederhana, kita telah melakukan langkah awal untuk menjadi manusia yang dicintai Allah, seluruh malaikat, seluruh penghuni langit, dan akhirnya penghuni bumi. Mulai kini, ajarkanlah dalam diri kita untuk mengungkapkan cinta, meski sederhana, meski sahaja, asalkan tulus dari kesucian hati di dalam dada, maka itu adalah kerja cinta.

Jika memang sangat ingin berkatakata, tapi terantuk kebiasan diri tanpa kata dan orang yang kaku, maka cobalah saran Anis Matta dalam Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga ini. Tulislah sajak Sapardi Djoko Damono ini dan berikanlah kepada orang yang dicintai:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada